browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Baru Hamil di Atas Usia 35? Ini yang Perlu Dicatat!

Posted by on July 23, 2013

Baru Hamil di Atas Usia 35? Ini yang Perlu Dicatat!

pregnant mom

Jakarta, Karena asyik mengejar gelar akademis atau karier, banyak wanita modern yang baru hamil di usia yang tidak muda lagi. Padahal hamil di usia tua bukannya tanpa risiko. Salah satunya dikatakan bahwa wanita yang mengandung di atas usia 35 tahun berisiko memiliki bayi dengan Down’s Syndrome.

Seorang wanita yang hamil saat berusia 30 tahun, peluang memiliki bayi dengan Down’s Syndrome adalah satu dari 900, sedangkan ketika hamil pada usia 35 tahun, peluangnya meningkat menjadi satu dari 300. “Tapi mayoritas bayi dengan Down’s Syndrome lahir pada wanita yang berusia di bawah 35 tahun,” tandas Dr. Genevieve Fairbrother, seorang dokter spesialis obs-gyn dari Atlanta, Ga.

Selain itu, wanita yang mengandung saat berusia di atas 35 tahun juga berisiko tinggi mengalami diabetes gestasional, pre-eclampsia, placental abruption (komplikasi kehamilan dimana lapisan plasenta terpisah dari rahim sang ibu) dan placenta previa (komplikasi kehamilan berupa plasenta yang tumbuh di bagian terbawah rahim dan menutupi seluruh atau sebagian pembukaan serviks).

Belum lagi risiko kelebihan berat badan dan tekanan darah tinggi, diabates, serta penyakit tiroid yang juga menghantui wanita yang hamil setelah berusia 35 tahun.

Tapi tak perlu khawatir, berikut akan dipaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seorang wanita berusia 35 tahun dan baru mengandung, seperti halnya dilansir Foxnews, Selasa (23/7/2013).

1. Menurunkan berat badan dan hidup sehat
Terlepas dari adanya gangguan genetik, dr. Fairbrother menekankan bahwa hamil dan melahirkan di atas 35 tahun itu tak masalah. Lagipula berbagai komplikasi kehamilan dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup sederhana.
Jadi misalnya Anda menderita diabetes, penyakit tiroid atau kelebihan berat badan, pastikan saja kondisi kesehatan Anda terkontrol. Atau jika Anda masih suka merokok, hentikan sekarang juga.

2. Mengonsumsi vitamin prenatal
Mulailah dengan mengonsumsi vitamin prenatal seperti asam folat minimal satu miligram tiga bulan sebelum hamil dan terus mengonsumsi vitamin yang sama selama masa kehamilan untuk membantu mencegah terjadinya neural tube defects (NT-D) atau cacat lahir akibat tidak sempurnanya pertumbuhan sistem tabung saraf pada janin seperti spina bifida.

3. Menjalani ultrasound di minggu keenam
“Sebagian besar dokter tidak menyarankan ibu hamil untuk menjalani ultrasound hingga usia kehamilannya mencapai 8 minggu, tapi jika usia Anda di atas 35 tahun, pertimbangkan untuk menjalani ultrasound pada minggu keenam,” saran Dr. Sara Gottfried, seorang dokter spesialis obs-gyn dari Berkeley, Cali.
Menurut penulis buku laris The Hormone Cure itu, jika si calon ibu mempertimbangkan ultrasound dini hal ini dapat membantunya mencegah komplikasi kehamilan seperti placenta previa.

4. Mengetahui risiko tekanan darah tinggi
Karena tekanan darah calon ibu biasanya menurun di trimester kedua, penting untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah di trimester pertama agar risiko pre-elampsia yang dimiliki seorang ibu dapat segera diketahui.

5. Memutuskan untuk melakukan tes genetik sejak dini
Sebelum hamil, penting bagi para calon ibu untuk memutuskan melakukan tes genetik. Tes-tes genetik seperti chorionic villus sampling (CVS) perlu dilakukan sejak dini atau biasanya ketika usia kehamilan baru mencapai 11 minggu.

6. Mempertimbangkan risiko yang mengintai kehamilannya
Saat mencapai usia 35 tahun, Anda berisiko mengalami keguguran atau gangguan kehamilan lain jika Anda tak menjalani amniocentesis yang diperlukan untuk mengetahui risiko gangguan genetik pada seorang bayi. Ini adalah prosedur diagnosis pra-kehamilan dengan menggunakan sebuah jarum untuk mengambil sampel cairan amniotik atau cairan ketuban di sekitar janin.
Dari survei yang dilakukan Ariosa Diagnostics diketahui 58 persen wanita berusia 35 tahun akan cenderung menghindari amniocentesis.

7. Di-screening untuk mengetahui risiko diabetes gestasional
Gottfried merekomendasikan agar para wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memperoleh tes glukosa dini di trimester pertama untuk mengetahui apakah kandungan gula darah si calon ibu tinggi atau tidak. Setelah itu, prosedur ini sebaiknya diulangi lagi ketika usia kehamilan memasuki minggu ke-24 dan 28.

8. Adopsi pola makan sehat dan rutin olahraga
“Kehamilan merupakan salah satu ujian stres bagi tubuh Anda. Lagipula memiliki berat badan berlebih juga meningkatkan risiko seorang wanita untuk menderita diabetes gestasional, masalah berat badan dan melahirkan anak yang juga kelebihan berat badan,” ungkap dr. Fairbrother.

Untuk itu, siapkan tambahan kalori sebesar 200-300 kalori saja perharinya dan pastikan Anda mengonsumsi protein, buah-buahan, sayuran, gandum utuh, susu rendah lemak dan lemak sehat yang memadai. Yang tak kalah penting adalah olahraga rutin minimal 30 menit dalam sehari.

Sumber:
http://health.detik.com/read/2013/07/23/071142/2310910/1299/baru-hamil-di-atas-usia-35-ini-yang-perlu-dicatat?991104topnews

Great Day                Hug You

TIEST     MD

Posting Disclaimer Notice:
This posting is not my own creation collection. My effort is copy paste only. I got it from internet posted by someone else. I’m just saving some time for you to avoid searching everywhere. I’m not violating any copy rights law or not any illegal action which I’m not supposed to do. If anything is against law please notify me so that it can be removed.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *